Anomali Karier Hugo Samir, Wonderkid yang Harus Menepi dari Persik di Tengah Kerasnya Persaingan Level Atas

11 hours ago 8

Bola.com, Kediri - Persaingan sepak bola profesional memang keras dan kompetitif. Tiap pemain dituntut harus terus meningkatkan kualitasnya jika tak ingin tersingkir dari pentas level teratas.

Hugo Samir salah satu contohnya. Karier Putra pelatih Jacksen Tiago ini pelan-pelan mengalami anomali negatif. Ia sempat digadang-gadang menjadi wonderkid yang memiliki karier cemerlang.

Pada usia 17 tahun, Hugo telah menjalani debut bersama Timnas Indonesia U-19 saat mengalahkan Fiji U-19 dengan skor 4-0 pada laga ujicoba Internasional. Tampilan apik ini berlanjut ke pentas Piala Asia U-20 2023.

Kisah indah tersebut berlanjut dengan kontrak profesional pertama saat Hugo Samir direkrut Persik pada BRI Super League 2024/2025. Pemain yang bisa menempati tiga posisi sebagai winger kanan, kiri, dan striker murni ini dikontrak Persik untuk mengisi slot kuota pemain U-22.

Pada musim perdananya, Hugo Samir tampil sebanyak 20 pertandingan. Namun edisi lalu, jatah merumput pemain kelahiran Surabaya, 25 Januari 2005, ini turun drastis hanya sekali bertanding.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Gara-gara Menit Bermain

Di posisi tersebut Hugo Samir harus bersaing dengan pendatang baru, Wigi Pratama. Mengingat kewajiban klub hanya menurunkan satu pemain U-22, maka Persik memberdayakan pemain muda di posisi lain.

Muncul nama Rendy Sanjaya yang mengisi pos bek kiri. Performa pemain asal Tabanan, Bali, ini sangat impresif.

Selain Hugo Samir, dia juga merebut kesempatan beberapa pemain muda lain, seperti Wigi Pratama dan Rifki Ray Farandi.

Di posisi Hugo Samir, pelatih Marcos Reina lebih mengoptimalkan legiuner asing Ernesto Gomez dan Adrian Luna untuk menambah daya dobrak Macan Putih. Dampaknya produktivitas Persik kian lebih tajam.

Pada putaran kedua musim lalu Hugo Samir terpaksa dipinjamkan ke Persiku di ajang Championship karena menit bermainnya minim. Di klub asal Kudus ini, dia masih bisa menikmati sembilan laga dengan total 535 menit.

Berlabuh ke Mana?

Hugo Samir tersingkir bukan karena tak rajin latihan. Penyebabnya, lebih karena kebutuhan tim dan persaingan sangat ketat dengan pemain lain di posisi yang ditempati Hugo Samir.

Apalagi posisi Persik musim lalu sangat membutuhkan pemain depan yang mampu mengangkat performa tim di kompetisi.

Penyebab lainnya adalah regulasi yang diterapkan I.League dimana tiap tim BRI Super League boleh mengontrak maksimal 11 pemain. Tim-tim pun harus bersaing untuk meraih prestasi tertinggi.

Akibatnya, Persik terpaksa melepas Hugo Samir untuk BRI Super League musim depan. Apalagi musim depan kuota pemain U-22 telah dihapuskan.

"Penghapusan regulasi yang diterapkan I.League sudah tepat. Pemain berusia 22 tahun itu bukan junior lagi. Pemain muda harus punya kualitas level tinggi jika ingin tampil di Super League. Borneo FC saja berani melepas Alfahrezzi Buffon yang notabene pemain Timnas Indonesia," kata Toni Ho.

Namun pengamat sepak bola asal Makassar ini masih yakin pemain seperti Hugo Samir pasti dapat klub baru.

"Saya tak heran jika ada pemain muda lain yang harus menepi. Tapi rezeki kita tak tahu. Setelah dicoret Persik, Hugo Samir pasti diminati klub lain," ucapnya.

Read Entire Article
Bola Indonesia |