Kisah Berbelok-belok Ricky Nelson sebelum Menjadi Pelatih Sepak Bola: Gagal Jadi Pemain Bola, Pelatih Futsal, dan Sekolah Pendeta

14 hours ago 3

Bola.com, Jakarta - Perjalanan karier Ricky Nelson di sepak bola terbilang menarik dan unik. Awalnya, kelahirang Kupang, NTT, 25 Juli 1980 ingin menjadi pemain sepak bola profesional.

Hanya saja, situasi dan kondisi yang terjadi membuatnya harus menempuh jalan lain. Alih-alih ingin jadi pemain bola, Ricky Nelson justru terjun ke futsal dan langsung menjadi pelatih.

Hal menarik lainnya, pengenalan ilmu sepak bola digeluti Ricky Nelson saat ia kuliah di jurusan Teologia.

Ricky Nelson tak menampik, jalan kariernya sampai kemudian bisa dikenal seperti sekarang sarat liku.

Atas semua perjuangannya, kerja keras Ricky Nelson akhirnya berbuah manis. Ia pernah dipercaya sebagai pelatih sementara Persija Jakarta, Direktur Akademi Persija, pelatih kepala Persipura Jayapura, pelatih kepala Sulut United, pelatih kepala PON NTT.

Iwal jalan kariernya, yang menurutnya berbelok-belok, dibeberkan Ricky Nelson via kanal YouTube Sport77 Official belum lama ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sejak 2009

Menurut Ricky Nelson, ia terlibat di sepak bola sejak 2009. Tapi, sebelumnya, ada proses yang harus ia jalani.

"Di 2009 sebenarnya. Itu saya keluar dari NTT tahun 1998 pas lagi rusuh-rusuhnya. Habis SMA ke Jakarta. Di Jakarta kuliah, ya sambil cari-cari kesempatanlah mau main bola," kata Ricky Nelson.

"Tapi karena saat itu kompetisi berhenti tahun 1997/1998, nah jadi mikir lagi. Begitu tahun 2000-2001, mau coba lagi sudah telat. Karena dulu itu kan seleksinya enggak semudah sekarang," imbuhnya.

"Sekarang ini kan dengan lihat di Instagram, semua internet yang begitu luas semua bisa gampang banget dapat seleksi. Kalau dulu itu, kalau kita enggak kenal seseorang misalnya, ya sudah enggak bisa."

Banting Setir ke Futsal

Tak berpikir lama, Ricky Nelson banting setir ke futsal. Ia kemudian mengenal Justin Lhaksana, eks pelatih Timnas Futsal Indonesia.

"Jadi sangat sulitlah buat kita masuk, apalagi anak daerah. Waktu itu NTT enggak pernah lolos PON, enggak punya klub. Yang terkenal waktu itu cuma satu pemain saja, yakni Adnan Mahing. Dia main di Persikota sama Pak Rahmad Darmawan," ujarnya.

"Ya sudahlah, akhirnya saya berpikir, saya lari ke futsal dulu malah. Nanti bisa tanya Justin Lhaksana. Saya 2001 masuk pelatih futsal malah, di Kelme Futsalismo pertama."

"Angkatan pertama pelatih futsal di Indonesia, saya salah satunya. Saya, Donzol (Donni Zola), ya banyaklah. Masih awal-awal banget."

Saat memilih jadi pelatih futsal, Ricky Nelson terbilang masih muda. Meski terbilang muda, ia tetap percaya diri.

"Ambil futsal karena di sepak bola merasa enggak jalan nih. Enggak laku kayaknya. Ya, usia 21 - 22 tahun memutuskan untuk menjadi pelatih. Itu futsal masih ramai. Baru masuk," ujar Ricky Nelson.

"Jadi waktu itu Justin yang mulai. Meski masih muda, tapi saya merasa punya kemampuan untuk memahami permainan. 'Wah, ini kayaknya ngelatih lebih okelah daripada jadi pemain'. Karena kalau jadi pemain fisik saya sudah enggak kuat."

Pendidikan Olahraga

Diakui Ricky Nelson, dirinya sempat berharap bisa menjadi pesepakbola. Tapi karena tim daerahnya, PSK Kupang gagal di Suratin, seketika itu juga mimpinya buyar. Ia pun memutuskan kuliah sambil mencari kesempatan yang lain.

"Saya terakhir di Suratin aja. Ada namanya PSK Kupang. Jadi itu Suratin, kita kalah. Ya sudah selesai. Saya pikir, ya sudahlah, kuliah aja atau cari-cari yang lain," tukasnya.

Uniknya, Ricky Nelson bukan menimba ilmu ke fakultas keolahragaan tapi malah melanjutkan studi ke sekolah pendeta. Ia mengaku memang beda dari kebanyakan pelatih lainnya.

"Beda nih. Kuliah saya Teologia sebenarnya. Sekolah pendeta. Jadi kalau diceritan belok-belok sebenarnya. Jadi ambil Teologia, di Teologia itu di gereja saya ketemu salah satu orang dari Inggris yang sekarang yang buka Inspire Bandung itu, di Lembang," tukasnya seraya tertawa kecil.

"Kita di situ ada sebuah komunitas yang mengajarkan pelayanan ke olahraga. Jadi sport ministry kita menyebutnya. Akhirnya saya tertarik ke situ. Dari sport ministry saya belajar soal banyak hal-lah".

"Bagaimana di Olimpiade mereka mengajarkan soal, apa itu motivasi sebagai seorang atlet. Nah, itu semualah saya belajar di situ. Baru masuk kemudian masuk ke sepak bola," tutup Ricky Nelson.

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Choki Sihotang
  • Wiwig Prayugi
Read Entire Article
Bola Indonesia |