Persija Vs Persib Digelar Di Segiri, Pemerhati Sepak Bola: Sepak Bola Kita Gini-Gini Saja

15 hours ago 1

Bola.com, Jakarta - Laga paling bergengsi dalam sepak bola domestik Indonesia kembali tidak bisa digelar di tempat yang semestinya. Persija Jakarta selaku tuan rumah harus merelakan partai El Clasico melawan Persib Bandung dipindah ke Stadion Segiri, Kota Samarinda, pada Sabtu (10/5/2026), setelah PSSI, I-League, dan pihak keamanan gagal mencapai kata sepakat untuk menggelarnya di Jakarta.

Keputusan itu diambil hanya empat hari sebelum kick-off, setelah semua opsi yang tersedia di ibu kota, baik Stadion Utama Gelora Bung Karno maupun Jakarta International Stadium, tidak berhasil disepakati bersama. Pemindahan venue mendadak ini pun langsung memantik reaksi keras dari kalangan pemerhati sepak bola nasional.

Suporter Persija harus kembali menelan kekecewaan yang sudah berulang kali mereka rasakan. Kali ini, impian menyaksikan langsung duel El Clasico di kandang sendiri kembali pupus, padahal mereka sudah menunggu tujuh tahun sejak terakhir kali laga ini digelar di Jakarta.

Terakhir kali Persija menjamu Persib di Jakarta dalam kompetisi kasta tertinggi terjadi pada 10 Juli 2019 di SUGBK, ketika kedua tim berbagi poin lewat hasil imbang 1-1. Sejak saat itu, tidak sekali pun Jakarta mampu menjadi tuan rumah untuk laga paling ditunggu dalam kalender sepak bola Indonesia ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pemerhati Bola: Masalah Klise yang Tak Pernah Selesai

Pemerhati sepak bola nasional Ophan Lamara tidak menyembunyikan kekecewaannya saat merespons polemik pemindahan venue ini. Menurutnya, kejadian ini bukan sesuatu yang mengejutkan, melainkan pengulangan dari masalah lama yang tidak pernah benar-benar diselesaikan oleh para pemangku kepentingan.

"Masalah klise. PSSI, PT LIB, Polri seperti tidak bisa menemukan solusi. Aparat keamanan kita juga tidak berani mengambil risiko," kata Ophan kepada Bola.com, Rabu malam.

Ophan juga menyoroti ironi yang mencolok dalam situasi ini. Pihak keamanan di Jawa Barat terbukti mampu menggelar laga putaran pertama antara kedua tim di wilayah mereka tanpa masalah berarti, namun Jakarta justru gagal melakukan hal yang sama sebagai kota tuan rumah.

Negara Harus Jadikan Sepak Bola Agenda Nasional

Bagi Ophan, akar masalah ini jauh lebih dalam dari sekadar soal keamanan pertandingan. Ia menegaskan bahwa sepak bola Indonesia tidak akan beranjak dari kondisi stagnan ini selama negara belum menempatkannya sebagai prioritas dalam agenda nasional.

Tanpa komitmen penuh dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk kepolisian, kejadian serupa dipastikan akan terus berulang di masa mendatang. Situasi ini bukan hanya merugikan suporter, tetapi juga mempermalukan citra sepak bola Indonesia di mata publik yang lebih luas.

"Sepak bola kita ini begini-begini saja sejak dulu. Negara harus menempatkan sepak bola sebagai salah satu agenda nasional. Dengan begitu, maka seluruh stakeholder, terutama kepolisian, akan back up full," pungkasnya.

Persaingan di BRI Super League 2025/2026

Read Entire Article
Bola Indonesia |